Faktor yang Terkena Dampak COVID19 Beserta Kebijakannya



Sarah Nur Fadilla
1401194374
MB-43-11

Jadi, di tengah pandemi COVID19 banyak sekali yang dirugikan. Aktivitas – aktivitas masyarakat yang harus berubah. Apalagi dampaknya pada ekonomi dunia, yang paling dirasakan Indonesia adalah nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS yang sangat tinnggi menembus 16 ribu rupiah yang meyebabkan perekonomian negara merosot tajam. Virus yang hingga sekarang belum ditemukan obatnya di negara manapun. Pandemi COVID19 berdampak pada berbagai faktor. Faktor – faktor yang terkena dampaknya adalah

a.       Pariwisata dan rekreasi
b.       Transportasi laut dan udara
c.       Otomotif
d.       Kontruksi dan perumahan
e.       Manufaktur nonesensial
f.        Layanan keuangan
g.       Pendidikan
h.       Minyak dan gas
i.         Pertanian
j.         Perdagangan elektronik
k.       Internet atau teknologi informasi
l.         Kesehatan dan kebersihan diri
m.     Pemrosesan makanan dan ritel
n.       Alat dan jasa kesehatan

Jadi maksud dari perbedaan warna diatas adalah yang berwarna orange (a sampai g) adalah potential losers (sektor yang paling terpukul atau merosot akibat terjadinya pandemi COVID19 ini). Sedangkan yang berwarna ungu adalah sektor yang masih berpeluang untuk bertahan asalkan dapat bertransformasi menyesuaikan keadaan. Dan terakhir yang berwarna hijau (i sampai n) adalah potential winners (sektor yang justru akan tumbuh pesat dalam jangka pendek.
Penjelasan Dampak dari faktor – fakor diatas :

Pariwisata, Sektor pariwisata jelas mengalami kerugian paling besar akibat pandemi ini. Apalagi pengidap COVID-19 sudah terkonfimasi tersebar di lebih dari 150 negara di seluruh dunia. Menandakan bahwa sektor ini hanya dapat bangkit kembali jika penyebaran virus Corona benar-benar sudah berhasil dikendalikan.

Transportasi Laut dan Udara, Dengan tidak adanya kegiatan pariwisata, sektor transportasi laut dan udara pun kehilangan penggunanya. Hanya lalu lintas untuk mengirimkan stok peralatan medis dan kebutuhan pokok yang diperbolehkan dan jumlahnya pun diawasi. Jadi, jangan heran kalau banyak pekerja dari sektor ini harus dirumahkan hingga beberapa bulan kedepan.

Otomotif, Demi mencegah penyebaran virus Corona yang semakin masif, pergerakan manusia harus benar-benar dibatasi. Konsekuensinya, moda pergerakan seperti mobil dan motor menjadi tidak terlalu dbutuhkan pada masa seperti sekarang ini. Pabrikan roda dua dan roda empat mau tidak mau harus menghentikan produksinya sementara. Kegiatan penjualan dan ekspor otomotif juga diprediksi akan terus melesu hingga pandemi ini mereda.

Konstruksi dan Perumahan, Virus Corona yang mengancam nyawa manusia membuat pembangunan infrastruktur harus mengalah dulu di dalam skala prioritas. Sektor yang kebanyakan diisi oleh pekerja informal ini pun harus merumahkan sebagian besar pekerjanya akibat proyek-proyek yang terhenti selama pandemi.

Manufaktur Nonesensial, Yang dimaksud dengan industri manufaktur non-esensial adalah industri yang memproduksi barang-barang yang tidak berkenaan langsung dengan penanganan COVID-19. Contohnya seperti industri tekstil dan komponen elektronik. Rendahnya permintaan tak pelak membuat industri ini berpotensi tumbang selama status pandemi masih terjadi.

Layanan Finansial, Banyaknya pekerja yang dirumahkan membuat orang-orang harus berpikir dua kali atau lebih untuk meminjam ke Bank. Selama tidak ada jaminan yang dapat melindungi hak dari kedua belah pihak, sektor layanan finansial diperkirakan akan ikut tumbang selama pandemi virus Corona terjadi.

Pendidikan, Tutupnya sekolah-sekolah dan universitas membuat sektor pendidikan kurang bergairah. Proses belajar mengajar memang masih bisa berlangsung secara daring (online). Tetapi layanan pendidikan yang mengharuskan tatap muka belum boleh dilaksanakan selama virus Corona masih menyebar.

Sektor yang Berpotensi Menang Akibat COVID-19, Adapun menurut Dcode EFC, berikut adalah 6 sektor yang diperkirakan dapat ‘menang’ selama pandemi COVID-19 terjadi.

Alat dan Jasa Kesehatan, Kebutuhan dokter dan tenaga kesehatan melonjak tajam akibat pandemi yang sedang terjadi. Perekrutan darurat pun dilakukan demi memiliki stok SDM yang cukup. Belum lagi kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) dan alat-alat sepert ventilator yang kian mendesak. Membuat sektor yang satu ini dipastikan ‘meraup keuntungan’ akibat adanya COVID-19.

Ritel dan Pemrosesan Makanan, Kewajiban bertahan di rumah membuat masyarakat harus pintar-pintar mengelola stok makanan dan kebutuhan harian di rumah masing-masing. Industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods) diperkirakan dapat meraih keuntungan maksimal, terutama dari produk-produk pemrosesan makanan.

Kesehatan dan Kebersihan Diri, Demi melindungi diri dari virus Corona, masyarakat diminta menjaga kesehatan dan kebersihan diri serta keluarga. Akibatnya, permintaan di sektor ini turut melambung tinggi. Termasuk didalamnya industri rumahan dan UMKM yang memproduksi hand sanitizer, sabun, dan lain-lain.

Teknologi Informasi, Selama internet berfungsi sebagaimana mestinya, teknologi informasi tentu akan terus bertumbuh. Apalagi semakin banyak perusahaan menerapkan Work from Home (WFH) yang mengharuskan para pegawainya mengakses internet untuk menyelesaikan pekerjaan.

E-Commerce, Toko-toko yang terpaksa ditutup akibat pandemi COVID-19 kini berbondong-bondong pindah ke platform online untuk meneruskan proses jual belinya. Karenanya, platform semacam ini diperkirakan akan terus meraup untung selama pembatasan sosial (social distancing) dilakukan.

Pertanian, Kebutuhan manusia akan bahan pangan tidak akan meredup. Apalagi Indonesia dikenal sebagai salah satu lumbung pangan dunia. Sektor ini pun diperkirakan akan terus menanjak dan meraup untung selama pandemi COVID-19. Sebagai contoh, ekspor kentang dari Belawan, Sumatera Utara sudah tercatat sebanyak 12 kali dengan total mencapai 80,5 ton selama 2020. Padahal periode yang sama pada tahun 2019 hanya mencatatkan jumlah ekspor sebanyak 7 kali dengan volume total 48,5 ton.

Sektor yang Dapat Menang dan Dapat Tumbang Akibat COVID-19, Selain sektor-sektor di atas, ada satu sektor yang dapat menang sekaligus dapat tumbang. Posisinya tidak condong kemana pun karena sangat bergantung pada dinamika yang terjadi selama pandemi. Sektor itu adalah sektor minyak dan gas (migas).


Pastinya Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan – kebijakan dalam menyesuaikan COVID19 ini. Kita mengambil dalam kebijakan ekonominya saja. Kebijakannya pun dibagi 2 yaitu  kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Dibawah ini merupakan kebijakan fiskal :

1.       Pertama, Jokowi memerintahkan seluruh menteri, gubernur dan wali kota memangkas rencana belanja yang bukan belanja prioritas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). (Instruksi Jokowi ke Gubernur: Pangkas Anggaran Tak Penting, Alihkan ke Penanganan Corona) "Anggaran perjalanan dinas, pertemuan-pertemuan yang tidak perlu dan belanja-belanja lain yang tidak langsung dirasakan oleh masyarakat harus dipangkas,".

2.       Kedua, Jokowi meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mengalokasikan ulang anggarannya untuk mempercepat pengentasan dampak corona, baik dari sisi kesehatan dan ekonomi. Langkah tersebut sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Tentang Refocussing Kegiatan, Realokasi Anggaran serta Pengadaan Barang dan Jasa dalam rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019.

3.       Ketiga, Jokowi meminta pemerintah pusat serta pemerintah daerah menjamin ketersediaan bahan pokok, diikuti dengan memastikan terjaganya daya beli masyarakat, terutama masyarakat lapisan bawah. "Bantu para buruh, pekerja harian, petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro dan kecil agar daya belinya terjaga," ujar Jokowi.

4.       Keempat, dia meminta program Padat Karya Tunai diperbanyak dan dilipatgandakan, dengan catatan harus diikuti dengan kepatuhan terhadap protokol pencegahan virus corona, yaitu menjaga jarak aman satu sama lain. Jokowi secara khusus menyoroti program Padat Karya Tunai di beberapa kementerian, seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. "Dana desa dan program-program pemerintah daerah provinsi, kabupaten dan kota juga harus mengutamakan cara-cara padat karya. Ini akan membantu masyarakat, membantu petani, membantu para buruh tani, nelayan di pedesaan di seluruh tanah air," sambung Jokowi.

5.       Kelima, Jokowi menyebut pemerintah memberikan tambahan sebesar Rp 50.000 pada pemegang kartu sembako murah selama enam bulan. Dengan demikian, peserta kartu sembako akan menerima Rp 200.000 per keluarga per bulan. Untuk menjalankan alokasi tambahan kartu sembako ini, pemerintah menganggarkan biaya Rp 4,56 triliun.

6.       Keenam, Jokowi mempercepat impelemntasi kartu pra-kerja guna mengantisipasi pekerja yang terkena PHK, pekerja kehilangan penghasilan, dan penugusaha mikro yang kehilangan pasar dan omzetnya. Masyarakat yang terdampak diharapkan tersebut dapat meningkatkan kompetensi dan kulitasnya melalui pelatihan kartu pra kerja. Tahun ini, pemerintah telah mengalokasikan Rp 10 triliun untuk kartu pra kerja. "Sehingga nanti setiap peserta kartu prakerja akan diberikan honor insentif Rp 1 juta per bulan selama tiga sampai empat bulan," ucap Jokowi. Baca juga: Jokowi: Tukang Ojek, Sopir Taksi Tak Perlu Khawatir, Cicilan Ditangguhkan 1 Tahun

7.       Ketujuh, pemerintah juga membayarkan pajak penghasilan (PPh) Pasal 21 yang selama ini dibayar oleh wajib pajak (WP) karyawan di industri pengolahan. Alokasi anggaran yang disediakan mencapai Rp 8,6 triliun.

Dan ini merupakan kebijakan moneternya :

Di bidang moneter, kebijakan moneter yang diambil harus selaras dengan kebijakan fiskal dalam meminimalisir dampak Covid-19 terhadap perekonomian nasional. Oleh sebab itu otoritas moneter harus dapat menjaga nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi dan memberikan stimulus moneter untuk dunia usaha. Diharapkan ada relaksasi pemberian kredit perbankan dan mengintensifkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Dan

Menurut saya situasi ekonomi yang terjadi akibat COVID19 ini pastinya adalah ekonomi kita menurun daripada tahun – tahun sebelumnya. Ya dikarenakan pemasukan negara yang tidak sesuai dengan target dan pengeluaran negara pun yang sangat amat tidak diduga – duga.

Saran dan masukan saya untuk kebijakan pemerintah yang sudah pemerintah keluarkan atau rencanakan adalah di segerakanlah kebijakan – kebijakan yang berdampak positif bagi masyarakat. Karena saya sangat merasakan bahwa kebijakan – kebijakan pemerintah yang tertuju untuk masyarkat sangat kurang dirasakan dampaknya seperti hanya bualan belaka. Ya, memang ada beberapa yang sudah di implementasikan seperti kebijakan akan ketersediaan bahan pokok tetapi saya merasakan itu hanya terjadi di beberapa daerah saja tidak tersebar secara merata apalagi untuk kalangan bawah. Dan untuk APDBN dan APBD yang katanya di alihkan untuk penanganan COVID19 lebih transparan dan terbuka terhadap masyarakat jadi masyarakat mengetahui benarkah anggaran ini di alihkan untuk penangan COVID19 karena nyatanya rumah sakit masih banyak kekurangan dana untuk membeli alat – alat medis.

Sekian dari saya, bila ada kekurangan dan kesalahan mohon maaf sebesar besarnya. Terimakasih

Komentar